Oplus_16908288
Primamultimedia. Com. Atambua Tim pengerak PKK dan Dewan Kerajinan Nasional Kabupaten Belu mengikuti semarak kegiatan budaya dan sosial bertajuk NTT Berwarna Tahun 2025.
Semarak kegiatan budaya dan sosial bertajuk “NTT Berwarna” 2025 berlangsung di halaman kantor Plaza Perizinan Atambua. Sabtu 13 Desember 2025.
NTT berwarna dengan Kekayaan budaya berupa keindahan kain tenun warna-warna khas seperti indigo, merah bata, dan cokelat dan sekaligus mempromosikan nilai-nilai perlindungan sosial dan hak asasi.
Pantauan media, Semarak kegiatan budaya dan sosial bertajuk “NTT Berwarna” dengan Jalan santai yang menjadi bagian utama acara dipimpin langsung oleh Staf Ahli TP PKK dan sekaligus wakil ketua Dekranasda Belu Maria Fridolin Besin.
Dalam jalan santai, Afi Besin Kampanyekan cintai budaya NTT dan stop Kekerasan terhadap Perempuan dan anak sambil bagikan bunga kepada peserta Car Free Day sebagai ungkapan kasih, sekaligus momen ucapan Selamat Hari Ibu.
Tidak hanya itu, Afi Besin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berani melaporkan setiap kasus kekerasan yang menimpa kelompok rentan, seperti perempuan, anak, dan penyandang disabilitas.Di jelaskan Afi Besin,
Afi Besin berharap, adanya laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak itu sangat penting agar korban mendapatkan perlindungan dan penanganan yang tepat dan komprehensif dari pihak berwenang.
Selain “NTT Berwarna” jelas Afi Besin, ada juga peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) yang secara global berlangsung setiap 25 November hingga 10 Desember.
Menurut Afi Besin, kegiatan olahraga bersama yang bersifat inklusif ini juga menyebarkan pesan kesehatan dan anti kekerasan di ruang publik.
Selain itu, Afi Besin juga menyampaikan pesan-pesan edukatif melalui yel-yel dan orasi, yang bertujuan menciptakan lingkungan yang aman dan adil sesuai dengan amanat Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS).
Untuk diketahui, kegiatan jalan santai ini bersifat terbuka untuk umum dan melibatkan berbagai elemen masyarakat -mulai dari instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, hingga mahasiswa dan pelajar-menunjukkan komitmen kolektif dalam menjaga NTT agar tetap berwarna dalam keberagaman dan keadilan.***

