Oplus_16908288
Primamultimedia,com. Atambua Bupati Belu Willybrodus Lay bersama Forkopimda menghadiri doa bersama untuk perdamaian Indonesia dari perbatasan RI-RDTL.
Doa bersama untuk perdamaian ini tersebut berlangsung di titik nol Kota Atambua, tepatnya di depan Gereja Katedral Atambua, Sabtu 30 Agustus 2025 malam.
Romo Kris Fallo, Pr, yang memimpin doa bersama untuk perdamaian Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pembakaran lilin serta peletakan bunga sebagai simbol doa dan solidaritas sebagai bentuk duka cita dan penghormatan atas meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online.
Pada kesempatan doa bersama ini, Bupati Belu, Willybrodus Lay menyampaikan rasa belasungkawa mendalam atas peristiwa yang menimpa almarhum Affan.
Ia mengajak seluruh masyarakat Belu untuk tetap menjaga kedamaian serta mengedepankan dialog dalam menyampaikan aspirasi.
“Kita berduka atas meninggalnya saudara Affan. Mari kita menjaga kabupaten kita, menjaga kota kita, dan berdoa bersama agar Indonesia senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa,” ucapnya.
“Damai itu indah, mari kita mulai perdamaian dari Belu untuk Indonesia. Jika ada persoalan atau aspirasi, mari kita bicarakan melalui dialog. Pemerintah, aparat, tokoh agama, dan semua pemangku kepentingan siap mendengar dan mencari jalan keluar terbaik,”harap Bupati Belu
Sementara itu, Albert Beno dari perwakilan komunitas ojol, menyampaikan apresiasi atas perhatian besar yang diberikan pemerintah daerah bersama berbagai elemen masyarakat
Menurutnya, inisiatif menggelar doa bersama ini menjadi wujud nyata kepedulian dan persaudaraan serta persahabatan di wilayah perbatasan.
“Kami sangat berterima kasih karena pemerintah dan berbagai unsur organisasi telah mengajak kami berdiskusi dan bersama-sama menyampaikan kepedulian ini. Kami tidak sendiri,” ujarnya
“Mari kita saling menghargai, rendah hati, dan menjaga damai di wilayah perbatasan. Kita jangan dengan cara merusak, apalagi terjebak pada provokasi di media sosial,”harapnya
Turut hadir dalam doa bersama ini bersama tokoh agama, komunitas ojek online (ojol), TNI/Polri, pemuda gereja dan masjid, paguyuban K2S, Sidomukti, Warga Belu Lamongan (WBL), aliansi mahasiswa Cipayung Belu, serta masyarakat umum***

