Oplus_16908288
primamultimedia. Com. Jakarta. Layar raksasa berlatar merah itu hanya memuat satu angka besar: Rp381.000.000. Di atasnya tertulis bantuan untuk korban bencana gempa bumi Nusa Tenggara Timur.
Di bawahnya, ratusan pengunjung Kriyanusa 2026 duduk di meja-meja kayu panjang, sebagian dengan kotak makanan dan botol air di hadapan mereka, sebagian mengangkat ponsel untuk merekam. Senin 28 September 2026.
Beberapa saat sebelumnya, panggung yang sama dipenuhi barisan busana tenun ikat dari sebuah kabupaten di garis paling depan republik: Belu.Angka itu menutup sebuah cerita yang sesungguhnya dimulai jauh dari Jakarta, di teras-teras rumah dan rumah adat tempat para mama menenun, dan berjalan ratusan kilometer sebelum tiba di Senayan.
Garis Batas dan Panggung Utama Kriyanusa 2026Kriyanusa 2026 adalah pameran kerajinan Nusantara yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Jakarta Convention Center (JCC) pada 26–30 September 2026, dengan tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”.
Menurut panitia, pameran ini menghadirkan 410 stan dengan 257 peserta, mulai dari Dekranas dan Dekranasda, kementerian dan lembaga, hingga pelaku UMKM.
Pembukaan resminya dilakukan Ketua Umum Dekranas, Selvi Ananda Gibran Rakabuming. Di luar pameran, rangkaian acaranya mencakup fashion show, parade wastra, talkshow, lokakarya, dan pengalaman digital imersif. Pada Senin, 28 September 2026, panggung utama menjadi milik Dekranasda Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tajuk yang terpampang di layar berbunyi “Fashion Show Kabupaten Belu, Provinsi NTT & Bazar Charity untuk NTT”,
Sementara koleksi yang diperagakan bernama “Inan Rai Mother Earth by Vivian”, karya Ibu Lidwina Viviaty Ng . Peragaan tenun ikat itu dipadukan dengan penggalangan dana amal bagi para penyintas gempa di NTT.
Para peraga busana dan tamu berpose di panggung utama Kriyanusa 2026, JCC, dengan latar tajuk “Fashion Show Kabupaten Belu, Provinsi NTT & Bazar Charity untuk NTT”. Peristiwa ini bukan sekadar peragaan busana visual, melainkan medan artikulasi simbolis. Kabupaten Belu terletak di Pulau Timor, berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).
Dari beranda terdepan republik itu, sebuah narasi dibawa ke pusat wacana kebudayaan nasional. Lewat helatan ini, tenun tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas tekstil, melainkan sebagai teks sosial yang merekam kosmologi, spiritualitas, dan dinamika kesetaraan gender masyarakat perbatasan.
Kosmologi Inan Rai: Dialektika Sakral Manusia dan Ibu BumiDalam kebudayaan etnis Tetun di Belu, istilah Inan Rai secara etimologis bermakna “Ibu Bumi” (Ibu Tanah). Alam tidak ditempatkan sebagai objek pasif yang dieksploitasi, melainkan sebagai entitas bertuah yang memberikan kehidupan, perlindungan, dan identitas. Koleksi rancangan Ibu Vivi berakar pada prinsip ini melalui pemanfaatan tenun berpewarna alami (natural dye Tais).
Kain tenun ikat Belu disebut tais. Umumnya ia bermotif kecil dan abstrak, dikerjakan dengan tangan, dan waktu pengerjaannya tidak bisa dipercepat: satu lembar dapat memakan waktu dari empat hari hingga dua bulan. Dalam ekonomi busana yang serba cepat, ritme ini nyaris menjadi tandingan bagi budaya fast fashion. Waktu yang panjang itu bukan inefisiensi, melainkan bagian dari nilai kain itu sendiri.
Proses ekstraksi warna tradisional menggunakan daun tarum (indigo) untuk rona biru malam, akar mengkudu untuk merah marun bumi, serta kunyit dan kulit kayu lokal untuk gradasi kuning dan cokelat. Semuanya menuntut kesabaran dan tata cara tertentu. Dalam tuturan para penenun, pengambilan bahan pewarna kerap disertai sikap meminta izin kepada alam.
Secara sosiologis, praktik ini menandai relasi ekologis-spiritual: kesadaran kolektif bahwa produksi kriya harus selaras dengan daya dukung lingkungan, sebuah pesan yang terasa mendesak di tengah krisis ekologi global.
Upaya menghidupkan kembali pewarna alami di Belu bukan gerakan yang baru muncul. Dekranasda Belu telah menggelar pelatihan pewarna alami bagi para penenun setidaknya sejak 2018, dan pada 2025 kembali menyiapkan program dan pelatihan pewarna alam dan pendampingan secara intens dan melatih sesama penenun.
Karena itu, tema nasional Kriyanusa tentang kriya berkelanjutan sesungguhnya bertemu dengan praktik lokal yang sudah lama dirintis: keberlanjutan di Belu bukan jargon, melainkan cara kerja.Perempuan Perbatasan: Dari Pinggiran Menjadi Agen Kebudayaan.
Kajian sosiologi pembangunan kerap memotret daerah perbatasan sebagai wilayah pinggiran (periphery) yang rentan secara ekonomi. Namun, melalui pemberdayaan tenun oleh Dekranasda Belu di bawah kepemimpinan Ibu Lidwina Viviaty Ng, posisi penenun perempuan (ina-ina) mengalami reposisi strategis.
Penenun tidak lagi ditempatkan sebatas tenaga kerja domestik, melainkan diposisikan sebagai agen kedaulatan budaya dan penopang ekonomi keluarga.
Gambaran konkretnya dapat dilihat di Desa Faturika, Kecamatan Raimanuk. Dalam dokumentasi media, puluhan mama berkumpul menenun bersama di sebuah rumah adat, lalu kain jadi dibawa kelompok mereka untuk dijual ke Pasar Halilulik, Atambua.
Di sini menenun bekerja di dua lapis sekaligus: ia ruang kerja kolektif tempat keterampilan diwariskan, dan ia sumber uang tunai bagi dapur rumah tangga. Para penenun sendiri menyatakan hal itu dengan lugas: menenun adalah cara mereka memperoleh penghasilan.
Ekosistem di sekelilingnya pun dibangun berlapis. Pemerintah Kabupaten Belu mewajibkan pemakaian tais bagi aparatur sipil negara setiap hari Kamis sejak 2016, sebuah kebijakan afirmatif yang menciptakan pasar domestik dan rasa bangga berpakaian. Pada 2018, tenun Belu dipromosikan hingga Moskow.
Pada 2019, Dekranasda menggelar lokakarya lima hari bersama desainer Indonesia dan desainer Belanda di Galeri Tenun Atambua, dalam proyek kolaborasi yang berupaya mempertemukan tradisi dengan inovasi. Panggung Kriyanusa 2026 adalah kelanjutan logis dari rangkaian panjang itu.
Ada pula dimensi yang hanya dimiliki wilayah perbatasan. Bahasa Tetun dan tradisi tais dikenal di kedua sisi garis negara, sehingga kain menjadi penanda kekerabatan budaya yang tidak sepenuhnya dapat dipetakan oleh batas administratif.
Menenun di teras rumah perbatasan Atambua, dengan demikian, adalah bentuk resistensi terhadap ketergantungan ekonomi sekaligus peneguhan identitas. Keterampilan yang melintasi generasi menjadi modal sosial (social capital) yang merekatkan komunitas perempuan perbatasan.
Dimensi Sosiologis Tenun Belu di Kriyanusa 2026Berdasarkan analisis sosiologis, eksistensi tenun Belu dalam ajang Kriyanusa 2026 mencakup berbagai dimensi kehidupan yang saling terhubung. Pada Dimensi Kosmologis & Ekologis, konstruksi tradisional yang berakar pada penghormatan mendalam terhadap “Inan Rai” (Ibu Bumi) diwujudkan melalui ritual tenun dan penggunaan pewarna alami dari tanah.
Di panggung nasional, rancangan bertajuk Inan Rai ini mampu menerjemahkan pesan busana berkelanjutan yang selaras secara utuh dengan tema utama pameran.
Selanjutnya, pada Dimensi Gender & Agen Sosial, peran para perempuan penenun (ina-ina) yang awalnya lekat sebagai penjaga motif adat di ruang domestik kini mengalami reposisi penting. Mereka diakui secara luas sebagai pilar utama ekonomi kreatif dan agen kedaulatan budaya dari wilayah perbatasan.
Dari sisi Ekonomi & Pasar, kain yang sebelumnya lazim diperdagangkan di pasar lokal untuk menghasilkan pendapatan tunai bagi rumah tangga penenun, kini berhasil menembus akses panggung, jejaring desainer, hingga pembeli tingkat nasional.Sementara itu, dalam Dimensi Perbatasan & Identitas, kain tais diposisikan sebagai penanda kekerabatan budaya suku Tetun yang melintasi garis batas negara.
Melalui pameran ini, Kabupaten Belu sukses tampil sebagai “beranda depan” yang menyuarakan identitasnya sendiri di pusat. Terakhir, pada Dimensi Filantropi & Komodifikasi, fungsi tradisional kain yang lazim digunakan dalam pertukaran mas kawin (belis) dan simbol kekerabatan bertransformasi melalui bazar serta lelang amal.
Langkah ini menjadi wujud nyata reinvestasi solidaritas sosial guna membantu meringankan beban korban gempa di Nusa Tenggara Timur. Komodifikasi Beretika dan Transformasi Filantropi Melalui Lelang AmalMembawa karya kriya tradisional ke arena peragaan busana komersial berisiko menimbulkan peleburan makna atau komodifikasi dangkal, ketika kain direduksi menjadi motif cantik tanpa cerita.
Namun, pendekatan yang diusung koleksi Inan Rai Mother Earth memperlihatkan wujud komodifikasi beretika (ethical commodification): nilai jual kain dikaitkan langsung dengan nilai kemanusiaan.
Konteksnya sangat nyata. Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang disampaikan pada 10 September mencatat 136 korban jiwa dan lebih dari 102 ribu unit rumah terdampak, dengan sebaran korban terbesar di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Bantuan dari berbagai pihak terus mengalir sejak itu, dan Kriyanusa menjadi salah satu ruangnya. Integrasi bazar dan lelang amal dalam rangkaian acara mengubah orientasi konsumsi dari sekadar konsumsi estetis menjadi aksi solidaritas sosial.
Dana yang terhimpun dan diumumkan di layar panggung utama sebesar Rp381.000.000 (tiga ratus delapan puluh satu juta rupiah), disalurkan untuk membantu korban gempa bumi di NTT.Secara sosiologis, ada lapisan makna yang layak dibaca pelan-pelan.
Dalam tradisi Belu, kain adalah bagian dari sistem pertukaran dan kekerabatan, hadir dalam belis dan dalam relasi timbal balik antarkeluarga. Di panggung Jakarta, logika lama itu seolah menemukan bentuk baru : kain berpindah dari tangan penenun ke pembeli di kota besar, lalu berubah menjadi bantuan bagi orang-orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan si penenun.
Ada pula pesan solidaritas antarpulau : Belu di Pulau Timor mengulurkan tangan bagi saudara-saudara di Pulau Flores. Di sini identitas “orang NTT” bekerja sebagai jaringan kepedulian, melampaui sekat kabupaten dan pulau.
Layar panggung utama Kriyanusa 2026 mengumumkan bantuan untuk korban gempa bumi NTT senilai Rp381.000.000, disaksikan para pengunjung.Resonansi Suara Perbatasan untuk DuniaFashion Show Kabupaten Belu dan bazar amal “Inan Rai Mother Earth” karya Ibu Vivi pada Kriyanusa 2026 membuktikan bahwa kain tenun ikat perbatasan bukan sekadar kain hias.
Dalam setiap hembusan benang dan goresan warnanya, tersimpan doa untuk kelestarian Bumi, penghormatan kepada tradisi leluhur, dan martabat perempuan perbatasan Indonesia.Angka Rp. 381 juta di layar merah itu akan berganti menjadi atap, buku, dan kebutuhan pokok bagi para penyintas.
Sementara itu, tais yang melahirkannya akan terus ditenun, helai demi helai, di teras-teras Belu. Dari Atambua untuk Nusantara, tenun Belu terus menyuarakan keindahan yang berdaya dan berjiwa***

